Menjadi pemimpin bukan perkara mudah. Tetapi setiap diri manusia ditakdirkan untuk menjadi seorang pemimpin, baik untuk umat, keluarga bahkan pemimpin bagi dirinya sendiri.

Kepemimpinan adalah persoalan yang sangat penting dan prinsipil bagi umat Islam. Terdapat istilah, “la Islama illa bil-jama’ah, wa la jama’ata illa bil-imamah, wa la imamate illa bit-tha’ah” (tidak ada Islam tanpa berkelompok, tidak ada kelompok tanpa kepemimpinan, dan tidak ada kepemimpinan tanpa kepatuhan atau ketundukan). Betapa Islam mengajarkan untuk kita, pentingnya seorang pemimpin untuk mengajak dan membawa kebaikan bagi umat Islam itu sendiri.

Bahkan Nabi Muhammad SAW, mengharuskan dua orang yang sedang menempuh perjalanan untuk mengangkat salah satunya sebagai pemimpin dalam perjalanannya. Termasuk di dalam salat berjamaah, juga harus ada yang menjadi imam (pemimpin) dan yang dipimpin sebagai makmumnya.

Lalu konsep pemimpin agaknya diharapkan memiliki akal yang sehat dan bersih disebut ‘aqlu al-salim (akal yang selamat). Seseorang yang akal pikirannya sehat serta bersih adalah seseorang yang berpikir positif-optimis, mendayagunakannya secara produktif untuk berkarya, memikirkan kepentingan bersama dan tak terbesit sedikitpun pikiran culas yang hendak merugikan dan membahayakan orang lain.

Selain itu, pemimpin memiliki hati yang sehat serta bersih disebut qalbun salim (hati yang selamat). Seseorang yang senantiasa dihiasi dengan kemuliaan budi, tidak terkontaminasi oleh sifat-sifat tercela (seperti buruk sangka, iri hati, kesombongan, nafsu angkara murka, ketergesa-gesaan, kerakusan, dan lain-lain). Qalbun salim sebanyak dua kali disebut dalam Alquran, yaitu dalam QS. As-Syu’ara: 87-89 dan dalam QS. As-Saffat: 83-85.

Kemudian Islam menganjurkan al-ishlah, yaitu politik bina damai. Kata ishlah diidentikkan dengan rekonsiliasi, di mana terdapat dua kelompok yang bersitegang, berselisih atau konflik yang hendak direkatkan, diperbaiki kembali hubungan keduanya agar tidak berlarut-larut dalam suasana konflik.

Sebagaimana dalam Alquran, Orang-orang yang beriman itu sesungguhnya bersaudara. Sebab itu damaikanlah (perbaikilah hubungan) antara kedua saudara kamu itu dan takutlah terhadap Allah, supaya kamu mendapat rahmat, (S. Al-Hujurat: 10-13). Perdamaian adalah tidak adanya konflik dan peperangan. Perselisihan dan konflik berakibat tidak adanya kedamaian, karena kedamaian meniscayakan adanya keharmonisasian dan kehangatan.

Sehingga Islam mengajarkan kepada kita untuk berjalan di atas muka bumi dengan kerendahan hati artinya bahwa seseorang tidak congkak, egois dan sombong. Kesombongan akan berakibat pada perbuatan yang bisa merusak. Kesombongan bisa merusak ketika diwujudkan dalam pribadi pemimpin yang otoriter dan diktator, yang tidak menerima saran-kritikan dari rakyatnya. Kebijakannya ditentukan oleh keakuan dan kepentingan diri sendiri, walaupun merugikan rakyat banyak.

Islam sebagai agama, sumber nilai dan sumber inspirasi dalam peradaban umat manusia. Agar Umat Islam atau orang-orang beriman seyogyanya mampu mengambil dan memahami serta mengekpresikan ajaran atau makna yang terkandung menjadi nilai-nilai kehidupan.

f t g
Hak Cipta © 2019 Insep. Semua Hak Dilindungi.
Joomla! adalah software bebas dirilis dibawah lisensi GNU General Public License.

Kami memiliki 67 guests dan tidak ada anggota yang online