Indonesian Institut for Society Empowernment terus berupaya melakukan hal yang terbaik bagi bang sa dan negara. Riset dan pelatihan juga pembuatan diktat modul terus dilakukan dalam rangka meneguhkan kembali nilai-nilai luhur bangsa Indonesia yang adil dan beradab.

Setelah melakukan beberapa riset, workshop dan penyusunan modul, hari ini, INSEP melakukan Preliminary Workshop, Pembahasan Modul “Islam, Keindonesiaan dan Kebangsaan, Panduan Bagi Pengurus Masjid dan Khatib Jum’at,” di Hotel Desa Wisata Jakarta Timur, 29 Maret 2017.

Modul ini disusun dengan harapan menjadi panduan yang menemani pengurus masjid dan khatib Jum’at, agar tetap konsisten, dan istiqamah sebagaimana yang dicontohkan oleh Rasulullah SAW, yang mempunyai nuansa Keislaman, Keindonesiaan, dan Kebangsaan.

Dalam kesempatan ini Ahmad Syafi’I Mufid selaku Ketua Tim penyusunan modul mengatakan,  bahwa riset Insep 2012, menunjukkan bahwa mayoritas teroris dari 110 responden yang diwawancarai melakukan kekerasan bermotif agama hampir 40%. Dari sinilah, motif agama sangat mempengaruhi seseorang untuk melakukan kekerasan, sehingga dibutuhkan para tokoh agama yang mampu berbicara sejuk dan damai di depan ummatnya.

Penceramah di Masjid seperti khatib Jum’at, dalam menyampaikan khutbahnya tidak jarang memberikan nada yang keras, melontarkan nada kebencian, sarkasme, kekerasan, intoleran dan bahkan ajakan untuk berbelok memusuhi bangsa dan negara sendiri. Pengaruhnya akan menyebar di tengah masyarakat. Maka seharusnya khatib jumat mengikuti akhlak Rasulullah yang berisi pesan ketakwaan, perdamaian, persaudaraan, akhlak yang baik, cinta tanah air, dan memperkuat iman, islam dan ikhsan, juga tentang ajaran islam yang baik.

 “Kami berharap nantinya modul ini bisa dijadikan panduan oleh pemerintah dan bisa menyerap hasil kajian INSEP untuk panduan dan juga peraturan yang terkait dengan pendampingan para khotib Jum’at di Indonesia. Menurut riset kami, penting bagi semua pihak untuk turut serta dalam melakukan kerjasama kontra narasi radikal,” jelas Syafi’I Mufid.

Sementara Itu, Prof. Bambang Pranowo yang ikut dalam membedah modul ini mengatakan beberapa hal tentang modul yang sudah hampir bermanfaat terkait Ketuhanan yang maha esa, Islam zaman Rasulullah, Imamah dan Khilafah, Syariah dan NKRI,juga perlu ditambahkan bagaimana Demokrasi bisa bersanding dengan agama.

Bambang Pranowo mengingatkan bahwa para pejuang kemerdekaan Indonesia melakukan perjuangan dalam rangka memerdekakan Indonesia dengan semangat bersama antar pemeluk berbagai agama di Indonesia. Islam masuk ke iNdonesia dengan perjuangan kultural tidak dengan cara-cara kekerasan. Jalan damai ditempuh dengan baik dan Islam yang ada di Indonesia adalah islam yang ramah bukan islam yang marah.

Di sesi terakhir, Abdurrahman Ayyub  yang merupakan tim Ahli BNPT mengemukaan bagaimana seharusnya Islam Indonesia yang baik dan ikut serta membangun masyarakat yang tentram dan makmur. Beliau menyinggung tentang istilah Salafi yang merupakan akar kata Salaf (terdahulu) adalah kata yang baik, yang merujuk pada Islam pada zaman Rasulullah. Saat ini istilah Salafi disematkan pada warga negara Indonesia yang melakukan pemurnian tata cara ibadah dan tidak berupaya merongrong negara Indonesia. Salafi ini yang menurutnya baik untuk tetap bersama-sama membangun bangsa dan negara yang baik.

(asa)

 

 

f t g
Hak Cipta © 2020 Insep. Semua Hak Dilindungi.
Joomla! adalah software bebas dirilis dibawah lisensi GNU General Public License.

Kami memiliki 127 guests dan tidak ada anggota yang online