Salah satu cara yang dianggap efektif untuk melawan perkembangan ide-ide radikal saat ini adalah melalui penyebaran tulisan yang bersifat moderat. Proyek Publishing for Counter Radicalization diadakan dalam bentuk penerjemahan dan penerbitan buku-buku berkonten moderat karangan penulis dari Timur Tengah yang dianggap sebagai kawasan tempat asal mula kemunculan gerakan-gerakan radikal di dunia dianggap penting sat ini.

 

Demikian salah satu point penting dalam diskusi peluncuran dan diskusi buku dalam rangka proyek “Publishing for Counter Radicalization” yang berlangsung pada (8/7/2015) di Hotel Atlet Century Park, Jakarta.

Kegiatan yang dilaksanakan oleh Institute for Society Empowerment (INSEP), bekerjasama dengan Kementerian Luar Negeri RI, Kepolisian RI, dan Japan-ASEAN Integration Fund (JAIF), dihadiri oleh para perwakilan pemerintah Negara Anggota ASEAN dan Sekretariat ASEAN yang menangani isu kejahatan lintas negara, serta sejumlah awak media nasional.

Dua buku terjemahan yang diluncurkan dan didiskusikan pada kesempatan tersebut berjudul Islamic Movements in Egypt: A Map and Guidance (Judul asli: Muraja’at Jihaddiyin) dan Revisions of the Jihadists: The Hidden Stories about al-Jihad and Jemaah Islamiyah Inside and Outside of the Prison (Judul asli: Dalil al-Harakat al-Islamiyyah al-Misriyyah). Keduanya ditulis Dr. Abdel Mon’em Moneb, seorang cendikiawan pengamat gerakan Islam dan jihad di Mesir yang pernah ditahan oleh Pemerintah Mesir karena terlibat di dalam gerakan tersebut pada dekade 1980-an.

Buku pertama berisi tentang penjelasan komprehensif tentang gerakan Islam di Mesir, baik yang hanya menyebarkan gagasan maupun membenarkan penggunaan tindakan kekerasan, berdasarkan pengalaman penulis berinteraksi dengan anggota gerakan tersebut selama lebih dari 20 tahun.

Sementara itu, buku kedua berisi tentang diskusi mengenai perdebatan mengenai Inisiatif Penghentian Kekerasan (Mubdarah Wakaf al-‘Unf) dan Revisi Tandzim al-Jihad (Muraja’at Tandzim al-Jihad al-Mishri). Buku ini berupaya memetakan kontroversi di antara kelompok-kelompok Islam mengenai perlu tidaknya penggunaan kekerasan dan bagaimana jihad itu seharusnya dilakukan.

Publishing for Counter Radicalization merupakan salah satu proyek usulan Indonesia dalam kerangka kerja sama ASEAN-Japan Counter-Terrorism Dialogue (AJCTD) periode 2012-2015. Proyek AJCTD merupakan bentuk implementasi konkret kerja sama antara ASEAN dan Mitra Wicaranya dalam menanggulangi ancaman terorisme di kawasan Asia Tenggara.

Sebagaimana ditekankan oleh Direktur Polkam ASEAN, buku terjemahan ini diharapkan dapat beredar di Negara Anggota ASEAN lainnya dan diterjemahkan ke dalam bahasa nasional masing-masing negara agar dapat menjadi referensi yang berguna bagi para pembaca ASEAN yang ingin mempelajari gerakan radikal di Timur Tengah.

Dalam sambutan pembuka, Direktur Politik dan Keamanan ASEAN, Kemlu, M. Chandra W. Yudha menyampaikan bahwa peredaran publikasi yang mengandung konten radikal merupakan ancaman keamanan yang serius karena berpotensi mempengaruhi pikiran seseorang untuk bersikap radikal dan melakukan aksi teror.

Penulis buku ini, Abdul Mun’em Monib mengatakan bahwa akar semua gerakan damai maupun radikal bisa berasal dari Mesir dan berkiblat ke Mesir seperti Ikhwanul Muslimin dan Jamaah Islamiyah.

Monib mencontohkan bahwa perkembangan Al Kaidah setelah dimasuki orang Mesir, maka sasaran utamanya menjadi lebih luas yaitu Negara Barat, gerakan ini mencontoh Tandzimul Jihad di Mesir. Alqaidah tidak mempunyai Negara sehingga ingin mempunyai Negara dan mengusai sebuah Negara, papaparnya.

Abdul Mun’em Monib juga menyinggung tentang organisasi ISIS yang marak mulai saat ini sebenarnya akan lemah dan hancur dengan senirinya ketika tidak ada tujuan politik yang jelas, dan selesai seiring selesainya perang Irak dan Suriah.

Moneb dalam bukunya, berkisah tentang bagaimana kelompok-kelompok radikal berkembang, mulai dari penggunaan kekerasan hingga cara-cara yang lembut. “Semua organisasi kekerasan bersumber di Mesir,” kata Moneb.

Gerakan radikal kemudian berkembang ke negara-negara Muslim. Kelompok ekstrimis juga lahir di Mesir, sehingga menurutnya penting untuk mengetahui peta gerakan kelompok Mesir.

Kepala Badan Nasional Penanggulangan Terorisme (BNPT) Saud Usman Nasution, menilai tepat penerbitan dua buku Moneb, dengan berkembangnya fenomena radikalisme di Indonesia.

“Lebih dari 150 orang Indonesia berperang di Suriah dan Irak, terpengaruh propaganda ISIS,” ujarnya. Dia menambahkan, nama-nama kelompok jihadis Mesir hampir sama dengan kelompok di Indonesia.

Oleh karena itu, pembaca buku disebutnya perlu memilah setiap nama, antara kelompok di Mesir dan Indonesia. “Dipilah dan diambil pelajarannya untuk dijadikan panduan,” kata Saud.

Terkait upaya deradikalisasi, BNPT telah banyak melakukan hal-hal terkait pencegahan seperti pembinaan narapidana teroris, dibimbing oleh ulama dan belajar berwirausaha. Kepada Keluarga teororis juga dilakukan upaya pembinaan.

“Sampai saat ini narapidana yang selesai masa hukumannya sekitar 400 orang, harus tetap diperhatikan, dipekerjakan, diusahakan pekerjaannya agar tiak radikal lagi,” papar Saud.

Sementara itu, Ahmad Syafi’I Mufid dari INSEP mengemukakan bahwa hasil riset INSEP tahun 2012 menunjukkan bahwa 45,5 % motif raikalisme berasal dari ideology agama , sementara 20 % berasal dari solidaritas komunal. Sehingga upaya-upaya deradikalisasi, menurut Ahmad, sangat penting dalam upaya mencari jalan damai di Indonesia.

Sementara itu, Perwakilan Jepang untuk ASEAN, Yukiko Okano, mengatakan negaranya mendukung penerbitan buku.

Eksekusi tiga warga negara Jepang oleh ISIS pada awal 2015, memperlihatkan perlunya Jepang ikut serta menangkal radikalisme. Buku-buku Monen akan diterjemahkan dalam bahasa Indonesia dan Inggris untuk kawasan Asean.

 

(ASE/as/KP)

 

sumber:

http://kabarpolitik.com/2015/07/09/pentingnya-publikasi-untuk-melawan-gerakan-radikal/

f t g
Hak Cipta © 2020 Insep. Semua Hak Dilindungi.
Joomla! adalah software bebas dirilis dibawah lisensi GNU General Public License.

Kami memiliki 109 guests dan tidak ada anggota yang online