Jaringan terorisme di Indonesia memang membuat resah masyarakat. Berbagai kalangan masyarakat terus membahas keberadaan jaringan yang terus diburu Detasemen Khusus (Densus) Anti Teror 88.

Salah seorang pengamat dari Wahid Institut, Rumadi Ahmad mengatakan hingga kini dirinya meyakini jaringan teroris di Indonesia masih ada dan terus berkembang. Untuk itu, masyarakat wajib mewaspadai keberadaan teroris serta gerak-geriknya.

"Cara tepat untuk menghadapi teroris adalah jangan panik dan jangan juga berdiam diri," ungkap Rumadi menjelaskan kepada wartawan saat Diskusi Publik dengan tema Terorisme Dulu, Kini dan Esok yang digelar oleh Forum Pemuda Lintas Agama Kota Tangerang Selatan (Tangsel), Kamis (23/5/2013).


Menurut Rumadi, pertumbuhan teroris di Indonesia bisa dilihat dari berbagai aksi sejumlah anggota Densus 88 yang berhasil menangkap anggota jaringan teroris dan mengamankan barang bukti yang mengarah ke aksi teror.

"Gerakan teroris ini sekarang beraksi dalam kelompok kecil. Masyarakat harus terus waspada," ujarnya.

Rumadi menerangkan saat ini menjadikan seseorang sebagai pelaku teror tidak perlu lagi harus mengenyam pendidikan militer di Afghanistan, Filipina atau di tempat lainnya, seperti yang dilakukan kelompok teror yang dulu.

"Saat ini generasi teroris baru cukup diasah dengan penjumpaan yang intensif sambil terus dijejali dengan doktrin-doktrin deskruktif yang dibungkus dengan militansi keagamaan," katanya.

Psikolog dari Indonesian Institute for society Empowrment (INSEP), Zora Sukabdi menjelaskan dampak dari aksi terorisme atas nama agama selama kurang lebih 13 tahun terakhir di Indonesia perlu disikapi dengan serius.

"Teror selain menimbulkan korban juga menimbulkan prasangka dan kecurigaan antar sesama pemeluk agama, ini yang bahaya," kata Zora.

Untuk itu menurut Zora, untuk mencegah munculnya tindakan teror perlu dilakukan usaha, khususnya dalam dunia pendidikan dan pelajaran formal, kegiatan ekstra kurikuler maupun pelajaran agama.

"Pendidikan di Indonesia harus dibentuk pendidikan yang jauh dari sifat-sifat negatif, intoleransi, deskriminasi, prasangka dan radikalisme," jelas Zora.

Ketua Panitia diskusi dari Forum Pemuda Lintas Agama Kota Tangsel, Abdul Rozak menjelaskan kegiatan diskusi ini dilakukan untuk menyikapi banyaknya pelaku teror yang ditangkap di Kota Tangsel oleh Densus 88 beberapa hari lalu.

"Kita bisa mencegah terorisme berkembang, salah satunya adalah dengan menggelar diskusi seperti ini," tambahnya.(af)

 

Bantentoday - 

f t g
Hak Cipta © 2020 Insep. Semua Hak Dilindungi.
Joomla! adalah software bebas dirilis dibawah lisensi GNU General Public License.

Kami memiliki 136 guests dan tidak ada anggota yang online