Munculnya radikalisme yang mengarah pada kekerasan dan ekstrimis dalam Islam merupakan tantangan baru bagi umat Islam untuk menjawabnya. Diperlukan kerja para pihak untuk ikut berpartisipasi dalam mencegah dan menanggulangi kekerasan atas nama agama ini. Peran tokoh agama, ulama, kiai, pemerintah, NonGovernment Organization, Perguruan tinggi, serta pihak lainnya dibutuhkan untuk menjaga bangsa dan negara dalam suasana damai dan tentram.

Indonesian Institut for Society Empowerment mengadakan Workshop “Meningkatkan Partisipasi Tokoh Agama dalam Pencegahan dan Penanganan Terorisme di Indonesia” yang dilaksanakan di Amarozza Bekasi 27-29 Oktober 2017. Panitia Workshop ini mengundang para pembicara dari Kemenag, BNPT, Kepolisian, dan dihadiri oleh para pihak yang punya konsen pada ekstrimis kekerasan.

Direktur INSEP Ahmad Syafii Mufid mengatakan bahwa persoalan kekerasan yang mengarah pada ekstrimisme dan terorisme itu tidak menurun, tapi tendensinya dan trennya terus meningkat dan naik. Kenapa naik? Banyak variabel yang mempengaruhinya. Salah satunya isu media baik konvensional maupun media sosial cepat tersebar dan direkam oleh publik. Isu tersebut mempengaruhi masyarakat luas menjadi sebuah kesadaran publik dan opini publik yang kalau dibiarkan bisa membahayakan dan meledaksewaktu-waktu.

Ahmad Syafii Mufid mengemukakan pentingnya tokoh agama, ulama dan Kiai untuk bersama-sama melakukan upaya untuk mengajak dan berdakwah ke masyarakat dengan arah kebaikan. Bagaimana tokoh agama mengajarkan Islam yang memberi rahmat bagi seluruh alam semesta. Program-program yang kontinyu dan berkelanjutan untuk mencegah kekerasan di masyarakat, dan juga upaya dalam menangani para mantan teroris agar bisa kembali ke masyarakat dan diterima dengan baik.

Pembicara yg diundang dari BNPT, Brigjen. Pol. Ir. Hamli, menyambut baik kegiatan INSEP ini. Dia mengutip riset yang pernah dilakukan INSEP, bahwa bahwa 45,5 % teroris berlatar belakang dorongan ideologi agama. Tokoh agama harus mencegah anak-anak muda untuk terlibat dalam kekerasan, terorisme dan ekstrimisme. Para ulama dan tokoh agama juga bisa berdakwah kepada ummat agar tidak tidak mendukung para tokoh teroris di Indonesia. Ini semua tidak lain untuk menjaga agar bangsa dan negara Indonesia tidak terjerumus pada kekerasan yang akan meruntuhkan tatanan berbangsa dan bernegara.

 

Sementara itu, Direktur Penerangan Agama Islam Kementerian Agama , Khoirudin, mengungkapkan bahwa Kementerian Agama telah melakukan upaya dalam mencegah radikalisme dan ekstrimisme atas nama agama dengan membangun sistem e-PAI sebagai alat membangun Networking/jejaring kerja. Di samping itu Menyiapkan SDM (Penyuluh) dengan melakukan berbagai pembinaan untuk memberikan pembinaan kepada masyarakat Muslim. Menambah jumlah penyuluh di Seluruh wilayah indonesia dengan cara Inpassing/penyesuaian (tahun 2018), Menyiapkan modul sebagai pedoman para penyuluh dalam rangka mencegah gerakan radikalisme. Juga upaya lainnya.

Workshop ini diikuti oleh sekitar 30 peserta dari berbagai daerah di Jabodetabek. Diskusi kelompok menghasilkan beberapa program dan rekomendasi kegiatan selanjutnya.

f t g
Hak Cipta © 2020 Insep. Semua Hak Dilindungi.
Joomla! adalah software bebas dirilis dibawah lisensi GNU General Public License.

Kami memiliki 155 guests dan tidak ada anggota yang online