Indonesian Institute for Society Empowerment (INSEP) mengadakan Seminar Nasional bertemakan “Melawan Narasi Radikal: Memperkuat Kapasitas Khatib, Pengurus Masjid dan Penyuluh Agama”. Seminar yang dihadiri sekitar 250 khatib, pengurus masjid, penyuluh dan tokoh agama serta Dosen dan Guru Pendidikan Agama Islam dari sejumlah kota di Indonesia yaitu; Poso-Palu, Makassar, Solo dan Jabodetabek di Bidakara Jakarta, 26 April 2018.

Ketua Yayasan INSEP, KH A. Syafii Mufid mengatakan bahwa seminar ini berupaya mensosialisasikan kepada para pemuka agama di daerah-daerah untuk bisa melawan penyebaran paham radikal melalui khutbah Jumat. Menurutnya, Indonesian Institute for Society Empowerment (INSEP) telah memprakarsai sebuah program dengan para ulama yang bertujuan untuk memperkuat peran dan kapasitas para khatib, pengurus masjid dan penyuluh agama dalam upaya menghasilkan narasi religius kontra-radikal sejak 2016-2017. Serangkaian program yang meliputi penelitian, pelatihan, termasuk pendampingan berbasis masjid melibatkan kemitraan dengan tokoh agama, institusi keagamaan dan perwakilan Kementerian Agama di tingkat nasional dan lokal.

 Syafii Mufid menambakan, bahwa kegiaatan INSEP menghasilkan output program antara lain: (1) pemetaan khutbah Jumat berbasis penelitian di 45 masjid yang berada di tiga wilayah: Jabodetabek, Solo (Jawa Tengah), kota Palu dan Poso (Sulawesi Tengah); (2) manual naratif kontra-radikal untuk khatib, pengurus masjid dan penyuluh agama yang dikembangkan berdasarkan hasil pemetaan; (3) 45 perwakilan yang terlatih dari khatib dan manajemen masjid di wilayah tersebut di atas, dan (4) Menyediakan fasilitasi kepada perwakilan khatib dan manajemen masjid yang terlatih dalam mengimplementasikan manual narasi kontra-radikal dengan cara pendampingan.   

Sementara itu, hadir dalam acara ini Nur Syam, Sekjen Kementerian Agama RI yang menyatakan bahwa Saat ini bangsa Indonesia sedang menghadapi disintegrasi bangsa disebabkan oleh adanya keinginan untuk mengubah haluan negara. Ada sebagain kecil warga masyarakat yang menginginkan negara ini berdasarkan atas agama tertentu. Ini yang perlu dihadapi dan dilawan dengan narasi psoitif agar tidak terjadi upaya-upaya untuk merongrong keutuhan Bangsa dan Negara. Upaya yang dilakukan civil society seperti INSEP ini penting untuk mengajak para pemuka Agama dalam jalan yang lurus. Terus menyebarkan narasi positif untuk membangun bangsa dan negara, dan bukan menyebarkan narasi radikal, hoax yang akan mengganggu keutuhan dan memecah belah ummat.  Gatot Eddy Pramono, Staf Ahli Sosek Kapolri mengatakan bahwa Kita perlu melakukan upaya-upaya bersama dalam memerangi Radikalisme yang mengatas namakan agama dengan melawan hate speace dan berita-berita hoax. Dengan selalu menampilkan optimisme dan nilai keagamaan yang berisi akhlakul karimah akan menjadikan bangsa kita dapat bekerja secara baik dan berfikir positif sehingnga menjadikan banga kita menjadi negara yang besar.   

Direktur Pencegahan BNPT, Hamli menyampaikan bahwa pentingnya semua pihak bekerjasama dan melakukan sinergi dalam memerangi radikalisme dan terorisme ini. Faktor-faktor yang menjadikan seseorang radikal dan teroris perlu keterlibatan semua pihak baik dari Kepolisian, BNPT, kementerian Agama, Kemensos, TNI, dan Lembaga Negara agar faktor pemicu timbulnya radikalisme dapat diatasi baik dari Ideologi keagamaan, faktor kesejahteraan, faktor keadilan dan faktor-faktor lainnya.

Di session Seminar, hadir Siti Nur Azizah, Bina Paham Keagamaan Islam dan Penanganan Konflik Dirjen Bimas Islam RI Mengajak peserta untuk menerapkan apa yang telah disampiakan oleh para pembicara dalam keynote speaker sampai saat ini.            

Perwakilan dari Densus 88, Nur Wahid menambahkan bahwa agama islam banyak mengajarkan kebaikan dengan memberikan contoh tauladan akhlak mulia Rasulullah. Jalan terbaik dalam akhlakul karimah adalah ajaran terdalam dari agama Islam itu sendiri, seperti yang dikatakan oleh Rasulullah, bahwa beliau diutus untuk menyempurnakan akhlak manusia. Ini merupakan ajaran sufi yang mengajak pada budi pekerti yang baik. Ketika masyarakat Indonesia mempunyai akhlak yang baik, tentu akan membuat masyarakat baik dan tidak melakukan hal-hal tercela apalagi melanggar hukum.

Dalam seminar ini, ada sekitar 10 naskah khutbah dari  berbagai daerah yang diberi penghargaan sebagai naskah khutbah yang terbaik dari ratusan khutbah jum’ah yang dikumpulkan oleh INSEP. Penghargaan diberikan kepada penulisnya yang kesemuanya adlaah khatib jum’at dan pemuka agama yang menjadi khotib ju’mah di penjuru Indonesia.  

 

f t g
Hak Cipta © 2020 Insep. Semua Hak Dilindungi.
Joomla! adalah software bebas dirilis dibawah lisensi GNU General Public License.

Kami memiliki 96 guests dan tidak ada anggota yang online