“Dakwah yang disampaikan dengan hati akan diterima dengan hati!” Itulah yang diungkapkan oleh Izzat Solihin, Kasubag TU Kementerian Agama (Kemenag) Kota Balikpapan, Kalimantan Timur (Kaltim) pada acara workshop yang diadakan di Hotel Grand Tiga Mustika Balikpapan, Sabtu (11/8). Workshop yang bertemakan Melawan Narasi Radikal: Memperkuat Kapasitas Khatib, Penyuluh dan Pendidik Agama ini merupakan workshop kedua setelah diadakan workshop serupa di Kota Bima, Nusa Tenggara Barat pada 4-5 Agustus 2018 lalu.

 

Workshop kedua ini merupakan rangkaian kegiatan yang diprakarsai oleh Indonesian Institute for Society Empowerment (INSEP) di Kota Balikpapan, Kaltim selama dua hari pada 11-12 Agustus 2018. Workshop dihadiri oleh 26 peserta yang terdiri dari Khatib atau Takmir Masjid, Penyuluh dan Pendidik Agama.

 

Dalam kesempatan ini, beberapa narasumber turut hadir diantaranya Direktur Urusan Agama Islam (Urais) dan Pembinaan Syariah (Binsyar) Kemenag Republik Indonesia (RI) Dr. H. A. Juraidi, MA, Kepala Kantor Kemenag Kota Balikpapan, Kaltim yang diwakili oleh Izzat Solihin, Rektor Institut Agama Islam Negeri (IAIN) Samarinda, Kaltim, Dr. H. Mukhamad Ilyasin, M. Pd, dan Majelis Ulama Indonesia (MUI) Provinsi Kaltim, Dr. H. Akhmad Bukhari, M.Ag, serta Direktur Intelijen Keamanan Kepolisian Daerah (Polda) Kaltim, Kombes Pol. Wawan Muliawan, SH., S.IK., MH.

 

Kemudian narasumber dari INSEP yaitu Ketua Yayasan INSEP, K.H. Ahmad Syafii Mufid menjadikan Workshop “Melawan Narasi Radikal: Memperkuat Kapasitas Khatib, Penyuluh dan Pendidik Agama” momentum bagi peserta dan narasumber lokal yang hadir untuk bersama-sama, menelaah pentingnya pemahaman tentang radikalisme yang kini telah terindikasi terdapat pada Narasi Khutbah Jumat yang beredar di masyarakat.

 

Dalam paparannya, Dr. H. A. Juraidi, MA, Direktur Urais dan Binsyar Kemenag RI menyebutkan bahwa Masjid merupakan asset Umat Islam yang sangat penting, saking pentingnya Masjid mampu menjaga persatuan, kesatuan dan meningkatkan produktivitas bangsa, serta merawat kerukunan umat beragama. Sehingga ceramah agama di rumah ibadah ini hendaknya memenuhi ketentuan yang telah diatur oleh Kemenag RI. Salah satunya, ceramah agama disampaikan oleh penceramah yang memiliki pemahaman dan komitmen dengan tujuan utama diturunkannya agama yakni melindungi harkat dan martabat kemanusiaan serta menjaga kelangsungan hidup dan perdamaian umat manusia.

 

Selain itu, Ia juga menekankan kepada para peserta workshop yang memiliki latar belakang sebagai pendakwah di masyarakat agar materi yang disampaikan tidak bertentangan dengan empat konsensus Negara RI yaitu Pancasila, Undang-Undang Negara RI Tahun 1945, Negara Kesatuan RI dan Bhinneka Tunggal Ika tanpa mempertentangkan unsur SARA (Suku, Agama, Ras dan Antargolongan) dan bermuatan kampanye politik praktis. “Jika itu semua dijadikan acuan, maka masyarakat akan terhindar dari gesekan-gesekan yang terjadi seperti saat ini,” pungkasnya, Minggu (12/8).

 

Dalam Materi Universalitas Rahmat Islam untuk Kehidupan (Pandangan Islam Terhadap Terorisme) yang disampaikan oleh Dr. H. Mukhamad Ilyasin, M.Pd, Rektor IAIN Samarinda, Kaltim bahwa tugas pendakwah adalah meminimalisir terjadinya pertumpahan darah di lingkungan tempatnya berada. Lebih lanjut, memaksakan pandangan kepada kalangan yang berbeda pandangan dengan cara pertumpahan darah merupakan tindakan yang tidak dibenarkan oleh ajaran agama manapun. “Apalagi paham-paham yang jelas mencederai komitmen kebangsaan melalui 4 pilar bangsa Indonesia, itu harus ditolak!,” tutupnya Sabtu (11/8).

 

Workshop semakin menarik dengan tambahan Materi Fitnah Akhir Zaman yang dipaparkan oleh KH. Ahmad Syafii Mufid, Ketua Yayasan INSEP bahwasanya fitnah memiliki beberapa arti, yaitu ujian, tipu daya dan dalam paparan kali ini berarti menghalangi Agama Allah (Q.S. Al. Maidah: 49). Dan yang paling banyak merasakan fitnah adalah Umat Islam yang bukan hanya merusak satu individu tapi mampu merusak masyarakat. Melalui Khutbah Jumat yang damai akan membentengi masyarakat dari fitnah, “Salah satu cara untuk menghindari fitnah adalah dengan melawan narasi radikal agar umat tidak terpecah belah,” tambahnya, Sabtu (11/8).

 

Selain berbicara tentang paparan realitas masyarakat saat ini, perlu disampaikan tentang Peran Tokoh Agama dan Pendidik Agama dalam Menangkal Radikalisme dan Terorisme oleh Dr. H. Akhmad Bukhari, M.Ag. Nyatanya, radikalisme muncul dari problem keagamaan yang timbul di tengah-tengah masyarakat yang majemuk, di mana tokoh dan pendidik agama sangat diperlukan.

 

Bahwa Tokoh Agama berperan memberikan penjelasan kepada umat tentang pelurusan kembali ajaran nilai-nilai Islam yang disesatkan oleh Kelompok Terorisme. Sedangkan Tokoh Pendidik Agama merupakan bagian dari golongan masyarakat yang berilmu sehingga perannya untuk menyadarkan masyarakat yang kurang berilmu. “Keduanya berkolaborasi untuk menyampaikan pesan kedamaian dan besar potensinya untuk tercipta kehidupan yang tenteram dan damai di masyarakat,” ujarnya, Sabtu (11/8).

Berkesempatan Kombes Pol. Wawan Muliawan, SH., S.IK., MH., Direktur Intelijen Keamanan Polda Kaltim memberikan paparan mengenai Kemitraan Antar Aparat Keamanan Pemerintah dan Tokoh Agama dalam Pencegahan Ekstremisme Kekerasan, menjadi tantangan bahwa masih ada kelompok yang memaksa untuk mengganti Ideologi atau Dasar Negara RI dengan idelogi tertentu. Ini terjadi karena memudarnya nilai-nilai luhur budaya bangsa akibat dari Arus Globalisasi yang tidak disaring dengan baik, fenomena media social menjadi puncaknya. “Berita Hoax, Radikalisme, Intoleran, Propaganda, Provokaitif, Kebencian, Kejahatan menjadikan masyarakat harus waspada dan berhati-hati,” tambahnya, Minggu (12/8).

 

Di akhir workshop para peserta berdiskusi tentang upaya dalam membangun jaringan, pemberdayaan bagi masyarakat Provinsi Kalimantan Timur. Dengan merekomendasikan untuk melakukan pelatihan secara periodik, dan menjaga sinergitas para Khatib, Penyuluh dan Pendidik Agama dalam suatu forum komunikasi terkini, serta membangun jaringan dengan institusi pemerintah yakni Kepolisian dan Kemenag dan pihak-pihak terkait yang berhubungan langsung dengan masyarakat Kaltim.

f t g
Hak Cipta © 2020 Insep. Semua Hak Dilindungi.
Joomla! adalah software bebas dirilis dibawah lisensi GNU General Public License.

Kami memiliki 84 guests dan tidak ada anggota yang online