Tokoh Agama memiliki peranan penting hingga dalam melawan penyebaran paham radikalisme di tengah masyarakat sekarang ini. Tak sekadar menjadi penyejuk rohani saja, Tokoh Agama diharapkan mumpuni dalam memahami Ilmu Agama agar dapat meluruskan pemahaman agama yang kurang dan kerap kali menjadi senjata dalam penyebaran paham radikalisme berujung kekerasan.

 

Hal tersebut dipaparkan oleh Direktur Deradikalisasi Badan Nasional Penanggulangan Terorisme (BNPT), Prof. Irfan Idris, MA, salah satu narasumber dalam acara Workshop Melawan Narasi Radikal: Memperkuat Kapasitas Khatib, Penyuluh dan Pendidik Agama di Hotel Claro, Sabtu (18/8). Dalam workshop tersebut, ia juga mengatakan bahwa peran melawan penyebaran radikalisme dalam narasi khutbah yang marak terjadi di masyarakat merupakan peran bersama. “Dalam hal ini BNPT tidak bisa bekerja sendiri, perlu partisipasi aktif dari tokoh agama,” ujarnya, Sabtu (18/8).

Workshop ketiga yang sebelumnya telah dilaksanakan di dua kota yaitu Bima, Nusa Teggara Barat dan Balikpapan, Kalimantan Timur, hingga kali ini diadakan di Hotel Claro, Kota Makassar, Sulawesi Selatan. Acara yang diselenggarakan oleh Indonesian Institute for Society Empowerment (INSEP) terlebih dahulu dibuka oleh Brigjen Pol (Purn) Mohammad Safei selaku Direktur Eksekutif dan Dr. Taufik Hidayat, MA, selaku Direktur Program dan turut pula hadir Kepala Kantor Wilayah (Kanwil) Kementerian Agama (Kemenag) Sulawesi Selatan, H. Abubakar, S. Ag., M. Pd.

 

 

Dalam sambutannya, H. Abubakar mengucapkan terimakasih kepada penyelenggara karena dirasa Isu Radikalisme menjadi isu yang tengah diresahkan oleh Masyarakat Kota Makassar. Dilanjutkan dengan pemaparan materi yang mengingatkan kepada peserta agar menyebarkan semangat beragama yang dilandasi literasi agama yang baik bagi masyarakat, “Melihat latar belakang peserta yang mengikuti workshop merupakan tokoh agama di wilayahnya masing-masing, sehingga hal ini bisa dengan mudah dilakukan,” ungkapnya, Sabtu (18/8).

 

Terdapat 24 peserta yang mengikuti acara ini terdiri dari khatib atau pengurus masjid, penyuluh dan pendidik agama Kota Makassar dan sekitarnya. Acara yang dilaksanakan selama dua hari yaitu 18-19 Agustus 2018 menghadirkan beberapa narasumber diantaranya Direktur Deradikalisasi BNPT, Prof. Irfan Idris, MA, Kakanwil Kemenag Sulawesi Selatan, H. Abubakar, S. Ag., M. Pd, Majelis Ulama Indonesia (MUI) Sulawesi Selatan, Prof. Dr. H. M. Ghalib, MA dan Dosen Universitas Islam Negeri Alauddin Makassar, Dr. Suddin Bani, M. Ag serta AKBP Muh. Darwis, SH., MM.

 

Paparan sesi selanjutnya, MUI Sulawesi Selatan, Prof. Dr. H. M. Ghalib, MA melalui materi “Universalitas Rahmat Islam untuk Kehidupan (Pandangan Islam terhadap Terorisme)” menyampaikan bahwa MUI menjadi wadah bagi para ulama dan cendekiawan muslim Kota Makassar dalam mendalami pemahaman agama yang kuat untuk membentengi paham-paham agama yang salah dan cenderung keliru. “Paham agama yang salah ini berujung pada paham radikalisme kekerasan,” terangnya, Sabtu (18/8).

 

 

Di hari berikutnya, AKBP Muh. Darwis, SH., MM memberikan arahan kepada peserta agar dapat bekerjasama dengan lembaga kepolisian terkait maraknya paham radikalisme yang ada di masyarakat. “Sinergitas pemerintah, aparat keamanan dan tokoh agama sangat diperlukan untuk menekan perluasan gerakan-garakan terorisme,” pungkasnya, Minggu (19/8).

 

Salah satu peserta Kepala Madrasah Ibtidaiyah Al-Abrar Makassar, A. Harmiah memberikan apresiasi positif terhadap pelaksanaan workshop. Menurutnya dengan mengikuti workshop dapat memahami cara dari penyebaran radikalisme kepada masyarakat hingga sampai kepada anak didiknya, “Di Makassar ada Sekolah Islam yang tidak memandang perlunya pelaksanaan upacara bagi murid, padahal hal ini bisa menyebabkan kurangnya rasa nasionalisme bagi anak-anak nantinya, lembaga terkait perlu mengevaluasi ini” keluhnya, Minggu (19/8).

f t g
Hak Cipta © 2020 Insep. Semua Hak Dilindungi.
Joomla! adalah software bebas dirilis dibawah lisensi GNU General Public License.

Kami memiliki 113 guests dan tidak ada anggota yang online